Floca.id - Panggung hari terakhir Ramadan Rhapsody 2026 yang digelar beberapa waktu lalu mendadak berubah jadi taman masa depan. Bukan taman biasa, tapi sebuah "taman hasil rekonstruksi" yang ditampilkan melalui deretan busana unik karya 10 finalis Indonesia Fashionpreneur Competition (IFPC) 2026.
Kolaborasi antara Sparks Fashion Academy (SFA) dan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini tidak cuma sekadar pamer baju bagus. Tahun ini, para desainer muda ditantang mengolah sesuatu yang mereka sebut sebagai Evo Fabric.
Bukan Sekadar Kain Biasa
Menurut Floery Dwi Mustika, CEO SFA, Evo Fabric itu adalah cara baru melihat kain. Para peserta ditantang mengubah kain (wastra) menjadi lebih dinamis dan punya fungsi lebih.
"Evo Fabric bukan tren sesaat, tapi masa depan fashion. Kita menggabungkan teknologi, estetika, dan keberlanjutan supaya industri ini lebih bertanggung jawab," jelas Floery, dalam keterangan resminya yang diterima Senin (6/4).
Sederhananya, kain-kain ini dirancang supaya lebih awet, nyaman, dan bisa beradaptasi dengan aktivitas penggunanya. Jadi, tidak cuma cantik pas difoto, tapi juga enak dipakai harian.
Cerita lainnya dari Floca:
Ramadan Runway 2026 Berakhir, Denyut Industri Fashion Masih Berdetak

Menghidupkan 'Taman yang Direkonstruksi'
Dengan tema "The Reconstruct Garden", para finalis sukses menerjemahkan filosofi pertumbuhan dan regenerasi ke dalam jahitan. Ada yang bermain dengan teknik potong yang unik, ada juga yang menggabungkan unsur alam dengan sentuhan modern yang kental.
Sepuluh brand dan desainer yang beraksi di runway antara lain:
- Dinda Tri Lovely Mulyadi (selarasrupa)
- Almassda Rizky Kartika Sari (Aleay Channe Roule)
- Andini Tsani Mani (Rajut Asa)
- Crista Flora (Flo)
- Devina (Tiny Little Pieces)
- Edita Rianti Anastasia (Edith House)
- Keisha Rahma (Sha by Kei)
- Muhammad Haidar Zayyan (Batik Tulis Tirtha)
- Octa Putri Trisnawaty (Nawa by Octa Putri)
- Regina Bertha (Ru-Ca)
Eksplorasi Tanpa Batas
Selain para finalis, panggung juga makin ramai dengan koleksi dari desainer SFA lainnya. Gaya maximalism, detail yang terpotong-potong (fragmented), hingga gaya asimetris yang berani dipamerkan oleh nama-nama seperti Cheryl Aziza, Destyani, Alifia Herviani, hingga Nazhua.
Semua koleksi ini seolah mengirim pesan bahwa fashion Indonesia tidak jalan di tempat. Lewat pendidikan dan kolaborasi kayak gini, kain tradisional kita bisa "berevolusi" jadi produk global yang punya nilai jual tinggi. (ikh)