Floca.id - Seorang model melangkah mantap di atas runway di Kota Kasablanka. Ia mengenakan jaket bertekstur dengan potongan tegas, dipadu celana hitam yang simpel. Materialnya terlihat ringan, tapi tetap memberi bentuk pada siluet. Koleksi dari Dana Duriyatna itu tampil di tengah sorotan lampu dan penonton yang berdiri cukup dekat di sisi panggung.
Suasana itu jadi bagian dari gelaran Ramadan Runway 2026 pada hari ketujuh Ramadan yang digelar beberapa waktu lalu. Di momen yang sama, Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) memperkenalkan Pra Tendance 2027, sebuah pratinjau tren yang disiapkan sebagai panduan bagi pelaku industri fashion, termasuk UMKM.
Bagi pelaku industri, ajang ini biasanya jadi acuan awal untuk membaca arah pasar. Mulai dari pilihan bahan, warna, hingga gaya yang diprediksi akan berkembang di tahun mendatang.
“Heritage dari kekayaan kultur di setiap provinsi di Indonesia menjadi sumber inspirasi sehingga tidak hanya digunakan tetapi pula ditransformasi agar dapat digemari anak muda lalu menembus pasar nasional, kemudian internasional,” ujar Ketua Umum APPMI, Poppy Dharsono.
Cerita lainnya dari Floca:
Ramadan Rhapsody 2026 Resmi Dibuka, Bekasi Jadi Pusat Modest Fashion Ramadan
Tema “Eternal Bloom” di Atas Runway
Tahun ini, Pra Tendance mengangkat tema “Eternal Bloom”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai koleksi di atas runway.
Sejumlah desain menampilkan material ringan dan bertekstur, dengan potongan yang memberi ruang gerak. Beberapa terlihat menggunakan layer yang terbuka, menyerupai kelopak. Permainan warna juga dibuat bergradasi, dari tone yang lebih gelap ke terang.
Creative Director Ramadan Runway 2026, Ariy Arka, menyebut konsep ini menggambarkan proses perubahan yang terus berjalan.
“Eternal Bloom merupakan perwujudan dari keindahan yang tidak pernah berhenti tumbuh,” ujarnya.
Cerita lainnya dari Floca:
Wardah dan Tren Rutinitas Ringkas Lewat Tinted Sunscreen Hybrid

Arah Tren untuk Pelaku Industri
Selain tema besar, Pra Tendance 2027 juga membagi tren ke dalam beberapa pendekatan yang lebih spesifik.
Ada busana tailoring yang tetap nyaman dipakai di cuaca panas, resort wear yang fleksibel untuk mobilitas tinggi, hingga motif garis klasik yang diolah ulang dengan sentuhan modern.
Tekstur juga jadi perhatian, dengan inspirasi dari elemen alam seperti kayu atau tanah. Sementara untuk warna, palet yang digunakan banyak mengambil nuansa alam, mulai dari hijau daun, warna tanah, hingga semburat air.
Bagi pelaku UMKM, panduan seperti ini bisa jadi referensi awal sebelum mengembangkan koleksi mereka sendiri. (ikh)