Floca.id - Batuk yang tak kunjung reda sering dianggap sepele. Masuk angin, kelelahan, atau gangguan pernapasan ringan. Namun bagi seorang profesional berusia 42 tahun yang aktif dan bukan perokok, gejala itu justru menjadi awal diagnosis kanker paru non-sel kecil stadium IV.
Kasus seperti ini kini semakin sering ditemui. Dr. Tanujaa Rajasekaran, Senior Consultant Medical Oncologist dari Parkway Cancer Centre (PCC), mengatakan profil pasien kanker paru terus berubah.
Penyakit ini tak lagi identik dengan usia lanjut atau perokok berat walau itu masih jadi faktor risiko utama.
"Kami semakin sering menemukan pasien lebih muda dan tanpa riwayat merokok. Perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika juga berperan,” ujarnya dalam sesi media briefing bertajuk Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia: Kanker Paru pada Usia Produktif, di kantor Maverick Indonesia, Jakarta pada Februari 2026.
Cerita lainnya dari Floca:
Kelompok usia produktif rentan terkena kanker paru
Fenomena ini sejalan dengan studi 18 tahun di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar (2002–2019) yang menunjukkan hampir 63 persen kasus kanker terjadi pada usia 30–59 tahun. Artinya, kelompok usia produktif semakin rentan.
Tantangan terbesar adalah keterlambatan diagnosis. Gejala awal seperti batuk berkepanjangan, nyeri dada, atau sesak napas kerap diabaikan. Banyak pasien baru terdiagnosis saat memasuki stadium lanjut.
“Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan. Jika gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, jangan diabaikan,” kata Dr. Tanujaa.
Cerita lainnya dari Floca:
Pengobatan Kanker Turut Berkembang
Dalam dua dekade terakhir, pengobatan kanker paru juga berkembang menuju pendekatan yang lebih terpersonalisasi, termasuk imunoterapi dan terapi radiasi proton yang lebih presisi.
Seiring meningkatnya kasus pada usia produktif, para dokter mengingatkan pentingnya kesadaran terhadap gejala dan faktor risiko. Bagi mereka yang merasa sehat sekalipun, keputusan untuk memeriksakan diri sejak dini bisa menjadi langkah paling krusial—bagi diri sendiri maupun keluarga. (ikh)
(Foto Cover: Unsplash/Ubaid E. Alyafizi)