Floca - Santai Sambil Update

collapse
Home / Raga / Melihat Masa Depan Layanan Jantung Indonesia di ASMIHA 2026
Melihat Masa Depan Layanan Jantung Indonesia di ASMIHA 2026

Melihat Masa Depan Layanan Jantung Indonesia di ASMIHA 2026

2026-07-20  Ikhsan Digdo  125 views

Floca.id - Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Di tengah tantangan tersebut, layanan kesehatan nasional juga dihadapkan pada fenomena meningkatnya masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri.

Berangkat dari kondisi itu, Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association (ASMIHA) 2026 menjadi ruang diskusi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas masa depan layanan jantung Indonesia. Forum yang digelar Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) telah digelar beberapa waktu lalu.

Menata Ekosistem Layanan Jantung

Ketua The 35th ASMIHA 2026, dr. Amir Aziz Alkatiri, Sp.JP(K), mengatakan ajang ilmiah tahun ini diikuti sekitar 2.500 peserta yang terdiri dari dokter spesialis jantung, dokter umum, tenaga kesehatan, akademisi, peneliti, hingga mahasiswa dari dalam dan luar negeri.

Menurutnya, penyelenggaraan ASMIHA 2026 mengusung pendekatan yang lebih multidisiplin dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

 

Cerita lainnya dari Floca:

Bamed dan Tren Wellness Modern, dari Perawatan Kulit hingga Kepercayaan Diri

 

"ASMIHA tidak lagi hanya membahas perkembangan ilmu kardiologi, tetapi juga penguatan sistem layanan jantung Indonesia, mulai dari pendidikan dokter spesialis, pemerataan layanan, pembiayaan, hingga membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di dalam negeri," ujar dr. Amir.

Tak hanya menghadirkan kalangan medis, ASMIHA 2026 juga mengajak aktris Christine Hakim untuk berbagi perspektif sebagai keluarga pasien penyakit jantung. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini, pencegahan, dan menjaga kesehatan jantung sejak dini.

Kepercayaan Pasien Jadi Kunci

Salah satu isu yang mengemuka dalam ASMIHA 2026 adalah masih banyaknya masyarakat Indonesia yang memilih menjalani pengobatan di luar negeri. Para pembicara menilai tantangan tersebut kini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan kemampuan klinis dokter.

Kardiolog senior sekaligus Ketua Dewan Etik PERKI, dr. Muhammad Munawar, Sp.JP(K), mengatakan kompetensi dokter jantung Indonesia telah mampu bersaing di tingkat global. Namun, menurutnya, pengalaman pasien selama menjalani perawatan menjadi faktor yang semakin menentukan dalam membangun kepercayaan masyarakat.

 

Cerita lainnya dari Floca: 

Estetika Butuh Kompas Medis di Tengah Banjir Informasi 

 

"Transparansi komunikasi, pelayanan yang humanis, proses yang mudah dipahami, serta pengalaman pasien sejak pertama datang hingga selesai menjalani perawatan merupakan bagian penting dalam membangun kembali trust masyarakat terhadap layanan kesehatan Indonesia," ujarnya.

Selain pengalaman pasien, forum ini juga menyoroti pentingnya keberlanjutan pembiayaan layanan jantung, pemerataan dokter spesialis, hingga kesejahteraan tenaga kesehatan. Melalui ASMIHA 2026, PERKI berharap kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, institusi pendidikan, penyedia layanan kesehatan, dan masyarakat dapat memperkuat ekosistem layanan jantung Indonesia. (ikh)


Share: