Floca.id - Saat pertama kali melangkah ke ruang nuklir baru RS EMC Grha Kedoya, suasananya terasa berbeda dari ruang medis biasa. Tidak ada hiruk pikuk. Justru hening, rapi, dan seolah setiap detail sudah dipikirkan matang.
Hari itu, rumah sakit di Jakarta Barat ini memperkenalkan fasilitas terbarunya: ruang PET-CT Scan, teknologi skrining kanker berbasis radioaktif yang disebut-sebut paling mutakhir di Asia.
“Setelah pendaftaran, pasien akan langsung melakukan pemeriksaan tanda vital dan kadar gula,” jelas dr. Virginia Septiani yang memandu saya dan rekan media dalam tur fasilitas, Selasa (26/8).

Alurnya cukup panjang, tapi menarik diikuti. Dari pemeriksaan awal, pasien diarahkan ke ruang konsultasi, tempat dokter memastikan kondisi tubuh siap sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
Kemudian pasien memasuki hot area. Mereka berganti pakaian di ruang ganti, lalu menuju ruang uptake, titik krusial di mana infus dipasang dan injeksi radioaktif diberikan agar zat tersebut menyebar merata ke seluruh tubuh.
“Ada TV untuk menenangkan pasien, dan kami memiliki delapan ruang uptake,” tambah Virginia, menekankan pentingnya kenyamanan di tengah prosedur medis yang serius.
Sekitar enam puluh menit setelah injeksi, pasien dipindahkan ke PET-CT room. Di ruangan inilah mesin pemindai bekerja.

Mesin itu bernama Biograph Vision Quadra, keluaran Siemens Healthineers. Bentuknya besar, namun hanya membutuhkan waktu sekitar empat menit untuk memindai seluruh tubuh.
“Biograph Vision Quadra merepresentasikan puncak teknologi PET/CT. Dengan kecepatan, sensitivitas, dan resolusi yang tinggi, teknologi ini akan mendefinisikan ulang standar diagnostik di Asia,” kata Alfred Fahringer, President Director Siemens Healthineers Indonesia.
Cerita lainnya dari Floca:
MRI Tanpa Helium: Harapan Baru dari Siemens Healthineers untuk Pasien Indonesia
Teknologi ini diklaim mampu mendeteksi sel kanker berukuran sangat kecil dengan dosis radiasi yang lebih rendah dibanding metode standar. Artinya, peluang menemukan kanker sejak stadium awal semakin besar, dan dokter bisa menentukan rencana perawatan dengan lebih tepat.
Perjalanan pasien berakhir di post imaging room. Di sana, mereka mendapat kudapan ringan untuk memulihkan energi setelah berpuasa demi prosedur medis. Pasien kemudian berganti pakaian, dan hasil pemeriksaan akan dibahas dokter pada jadwal kontrol berikutnya.

“Kami percaya bahwa kemajuan ini juga akan menjadikan RS EMC Grha Kedoya sebagai destinasi bagi pasien mancanegara yang mencari layanan kedokteran nuklir terdepan,” ujar Jusup Halimi, President Director EMC Healthcare.
Sebagai jurnalis, menyaksikan langsung alur ini membuat saya paham: ruang nuklir bukan sekadar fasilitas baru. Ia adalah pertemuan antara sains mutakhir, teknologi presisi, dan perhatian pada kenyamanan pasien.
Di balik ruangan sunyi berlabel “radioaktif”, tersimpan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan jawaban lebih akurat tentang kondisi kesehatannya. (ikh)