Bersama, dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari,Sp.OG,MM,MARS
Floca.id - Peresmian Aesthetic Gynecology Center di Jakarta saat bulan Ramadan 2026 kemarin berlangsung cukup padat. Di sela acara, dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari,Sp.OG,MM,MARS, tampak berbincang dengan sejumlah tamu, baik dari kalangan jurnalis hingga dokter.
Saat suasana sedikit lebih lengang, kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan satu topik yang kerap luput dari pembicaraan terbuka: nyeri saat berhubungan intim.
Tanpa banyak pengantar, dr. Yeni langsung menegaskan bahwa keluhan ini bukan hal yang jarang ditemui dalam praktiknya.
“Ya, nyeri pada saat berhubungan intim itu menjadi satu hal yang sangat banyak persentasenya yang menyebabkan pasien datang menemui dokter," ungkap founder Health 360 x YPK Mandiri itu.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa masalah ini cukup umum, meski tidak selalu disampaikan secara terbuka oleh pasien.
Cerita lainnya dari Floca:
Beragam Faktor Penyebab

Dalam penjelasannya, dr. Yeni menekankan bahwa nyeri saat berhubungan intim tidak bisa dipahami sebagai satu kondisi tunggal. Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi, baik dari sisi anatomi, hormonal, maupun fungsi tubuh.
Secara anatomi, terdapat kondisi tertentu yang baru teridentifikasi ketika seseorang mulai aktif secara seksual. Sementara dari sisi hormonal, perubahan kadar hormon dapat memengaruhi kondisi jaringan di area intim, termasuk tingkat kelembapan dan elastisitas.
Faktor lain yang juga sering muncul adalah pasca persalinan normal. Proses penjahitan dapat meninggalkan jaringan parut yang dalam istilah medis disebut sikatrik. Jaringan ini dapat mengalami penyusutan dan memicu rasa nyeri saat penetrasi.
Selain itu, terdapat pula kondisi seperti vaginismus yang berkaitan dengan respons otot secara tidak sadar.
“Dengan rangsangan sedikit saja dia sudah merasa nyeri, bahkan mungkin dengan naik sepeda atau hanya menggunakan tight jeans itu sudah mengalami nyeri.”
Dalam kondisi tersebut, tubuh memberikan respons berupa kontraksi otot yang tidak dapat dikendalikan, sehingga menimbulkan rasa sakit bahkan pada rangsangan ringan.
Mitos Seputar Frekuensi Hubungan Intim
Pertanyaan lain yang kerap muncul adalah apakah jarangnya berhubungan intim dapat menyebabkan vagina menjadi kering dan memicu nyeri.
Menanggapi hal ini, dr. Yeni memberikan penjelasan yang cukup tegas.
“Sebenarnya tidak. Jadi vagina itu memiliki lubrikasi yang normal,” ungkapnya.
Menurutnya, selama kondisi hormon berada dalam batas normal, tubuh perempuan memiliki mekanisme alami untuk menjaga kelembapan.
"Kalau hormonnya normal, di fase masa subur itu pasti ada ovulasi, ada cairan vagina yang berlebih. Nah, itu sudah melubrikasi vagina secara alami. Jadi vagina kering karena tidak berhubungan itu mitos.”
Adapun rasa tidak nyaman yang muncul setelah jeda panjang tanpa aktivitas seksual lebih berkaitan dengan faktor adaptasi tubuh, seperti ketegangan otot atau rasa canggung.
Cerita lainnya dari Floca:
Peran Kenyamanan dan Respons Tubuh

Selain faktor fisik, aspek kenyamanan juga berperan penting dalam hubungan intim. Tubuh merespons rangsangan melalui tahapan tertentu, yang melibatkan hasrat dan stimulasi.
“Proses seksual bisa terjadi secara baik kalau rangsangannya baik. Hasrat seksualnya ada ( desire ), kemudian dirangsang dengan baik ( arousal ).”
Jika kedua aspek tersebut tidak terpenuhi, respons tubuh tidak akan optimal.
“Tapi kalau desire -nya enggak ada, suaminya juga tidak bisa merangsang dengan baik, ini enggak muncul nih. Itu yang menyebabkan vagina jadi kering, kaku, tegang karena dia merasa tidak nyaman atau tidak merasa safe .”
Dalam kondisi tersebut, hubungan intim tidak hanya terasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi menimbulkan nyeri.
Tidak Perlu Dinormalisasi
Dari perbincangan singkat tersebut, terlihat bahwa nyeri saat berhubungan intim merupakan kondisi yang cukup sering terjadi dengan latar belakang yang beragam.
Namun, frekuensi kejadiannya tidak menjadikannya sebagai sesuatu yang perlu dianggap wajar. Pemeriksaan lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasari.
Dengan demikian, keluhan ini sebaiknya tidak diabaikan, melainkan menjadi perhatian agar dapat ditangani secara tepat. (ikh)
Foto Cover: Unsplash/Roman Kraft