Floca.id - Banyak dari kita mungkin merasakan hal yang sama dalam beberapa waktu terakhir. Pengeluaran terasa makin berat, sementara kebutuhan sehari-hari terus berjalan tanpa banyak ruang untuk menunggu.
Situasi ini bukan hanya pengalaman individu, tapi juga tergambar dalam Financial Resilience Index 2026 yang dirilis Sun Life Indonesia bersama Genpop. Studi ini melibatkan 1.000 responden di seluruh Indonesia pada April 2026.
Hasilnya cukup mencerminkan realitas sehari-hari. Sebanyak 80 persen masyarakat Indonesia mengaku merasakan tekanan dari kenaikan biaya hidup. Bahkan, bagi sebagian orang, hal ini menjadi hambatan utama untuk memperbaiki kondisi keuangan mereka.
Di sisi lain, hampir separuh responden atau 48 persen masih belum memiliki perencanaan keuangan jangka panjang yang jelas. Sebagian besar masih berhenti di perencanaan jangka pendek, hanya sekitar satu tahun ke depan.
Cerita lainnya dari Floca:
Di Balik Semangkuk Gulai Kambing, Sasa Santan Tawarkan Rasa Gurih dan Creamy
Ketika Kita Harus Menyesuaikan Cara Mengatur Uang
Dalam kondisi seperti ini, banyak dari kita akhirnya harus menyesuaikan prioritas. Studi ini menunjukkan 26 persen responden mengurangi atau menunda pengeluaran penting, sementara 23 persen lainnya menggunakan tabungan yang sudah disiapkan.
Bahkan, sebagian kecil lainnya juga menunda kontribusi untuk dana jangka panjang seperti pensiun. Ini menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup bukan hanya soal angka, tetapi juga soal pilihan yang harus diambil sehari-hari.
Secara umum, hanya 14 persen responden yang merasa benar-benar aman secara finansial. Namun ada sedikit kabar baik, karena kelompok dengan ketahanan finansial yang kuat meningkat dari 30 persen menjadi 34 persen.
Meski begitu, gambaran besarnya menunjukkan bahwa banyak dari kita masih berada dalam fase “menyesuaikan diri”, bukan sepenuhnya stabil.
Cerita lainnya dari Floca:
Saat Literasi Keuangan Jadi Pembeda
Menariknya, studi ini juga menunjukkan bahwa cara kita memahami dan mengelola uang ternyata sangat berpengaruh pada rasa aman finansial.
Mereka yang memiliki literasi keuangan lebih baik tercatat punya tingkat kepercayaan diri finansial 53 poin lebih tinggi, serta tiga kali lebih tangguh menghadapi kenaikan biaya hidup.
Bahkan, mereka juga lebih optimistis terhadap masa depan keuangan, dengan selisih 47 poin lebih tinggi dibanding kelompok yang literasi keuangannya rendah.
Di sisi lain, kebiasaan merencanakan keuangan jangka panjang juga terbukti berdampak besar. Sebanyak 86 persen orang yang punya rencana keuangan merasa yakin bisa mencapai tujuan mereka, jauh di atas mereka yang tidak punya rencana.
Menariknya lagi, di tengah perkembangan teknologi, 68 persen masyarakat Indonesia kini sudah memanfaatkan generative AI untuk mencari panduan keuangan. Ini menunjukkan bahwa cara kita mengakses informasi keuangan juga sedang berubah cepat.
President Director Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, mengatakan temuan ini mencerminkan bagaimana banyak masyarakat Indonesia menyeimbangkan kebutuhan finansial jangka pendek dengan tujuan jangka panjang.
“Di tengah perubahan kondisi ekonomi, kesiapan finansial menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial,” ujarnya. (ikh)
(Foto Cover: Unsplash/ Muhammad Daudy)