Floca - Santai Sambil Update

collapse
Home / Intim / 'Cabut Singkong': Terasa Aman, tapi Tidak Efektif
'Cabut Singkong': Terasa Aman, tapi Tidak Efektif

'Cabut Singkong': Terasa Aman, tapi Tidak Efektif

2026-01-15  Ikhsan Digdo  352 views

Floca.id - Banyak pria merasa satu gerakan di akhir sudah cukup. Tanpa pelindung, tanpa ribet. Katanya lebih nyaman, lebih alami. Dari situ, senggama terputus atau populer dengan sebutan ‘cabut singkong’ jadi jalan tengah.

Padahal, tubuh tidak selalu patuh dengan ekspektasi kita. Menarik Mr. P di saat yang pas terdengar mudah. Tapi dalam praktiknya, sering kali meleset. Entah karena terlalu yakin, terlalu menikmati momen, atau memang telat sepersekian detik.

Dikutip dari Men's Health, data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat, dalam beberapa tahun terakhir, metode ini justru jadi kontrasepsi paling populer kedua. Sejak 2013, sekitar 60 persen perempuan pernah mengandalkannya. Angka yang besar untuk cara yang bergantung pada satu momen penentuan.

 

Cerita lainnya dari Floca:

Kesehatan Sperma yang Luput dari Perhatian Pria

 

Cabut Singkong Efektif Asal Tepat

Penelitian dari Universitas Princeton menyebutkan, kalau dilakukan dengan benar dan konsisten, risiko kehamilan sekitar 4 persen dalam setahun. Masalahnya, kondisi ideal jarang terjadi. Sedikit saja terlambat saat mencabutnya, risiko meningkat jadi 22 persen.

Belum lagi cairan pra-ejakulasi. Banyak yang menganggapnya aman. Padahal, cairan ini tetap bisa mengandung sperma. Dan dalam urusan kehamilan, satu sel sperma saja sudah cukup.

Akhirnya, cabut singkong lebih sering jadi soal berharap semuanya baik-baik saja. Rasanya simpel, tapi menyimpan banyak celah. 

Untuk pasangan yang ingin benar-benar menunda kehamilan, pelindung atau alat kontrasepsi lain tetap memberi kepastian, bukan sekadar mengandalkan timing. (ikh)

Foto Cover: Unsplash Daniel Dan


Share: