Floca.id - Pernah gak, waktu ngopi pagi-pagi, kamu berhenti sejenak? Menatap uap yang pelan naik dari cangkir, sambil mikir: dari mana datangnya rasa yang kamu nikmati setiap hari?
Di balik setiap cappuccino, latte, atau kopi susu aren, ada perjalanan panjang dari ladang. Dari biji yang tumbuh di tanah yang jauh, dirawat sabar oleh petani yang mungkin gak pernah tahu kopi mereka disajikan seindah itu di kota.
Roemah Koffie mencoba melihat lebih dalam peran para petani ini. Bersama JHL Merah Putih Kasih, mereka berkolaborasi lewat program Seribu Sarjana Pertanian, sebuah upaya menyiapkan generasi muda untuk meneruskan semangat para petani yang selama ini menjaga kehidupan di balik secangkir kopi.
“Roemah Koffie percaya bahwa setiap cangkir kopi yang kita nikmati hari ini dimulai dari pengetahuan dan tangan-tangan muda di ladang,” ujar Felix TJ, CEO Roemah Koffie.
Dari Ladang ke Panggung Jakarta Coffee Week
Langkah kecil itu diumumkan di tengah Jakarta Coffee Week 2025. Di atas panggung Roemah Koffie di ICE BSD, Tangerang, Minggu (2/11), mereka menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Yayasan JHL Merah Putih Kasih, Universitas Diponegoro, dan Universitas Katolik Soegijapranata.
Suasananya gak kaku. Di antara aroma kopi yang diseduh di panggung, perjanjian itu terasa lebih dari sekadar dokumen. Seperti semacam janji bersama bahwa kopi Indonesia harus tumbuh lewat pendidikan.
“Melalui kolaborasi dengan Yayasan JHL Merah Putih Kasih dan universitas mitra, kami ingin memastikan bahwa keberlanjutan kopi Indonesia dimulai dari pendidikan,” kata Felix, menegaskan arah besar yang mereka tuju.

Program ini dirancang buat membekali generasi muda dengan ilmu dan pengalaman lapangan. Bukan hanya soal menanam, tapi juga memahami bagaimana nilai ekonomi, sosial, dan budaya melekat pada kopi.
Cerita lainnya dari Floca:
Kopi, Cinta, dan Tanah Minang: Cerita Roemah Koffie Luncurkan Anak Daro di Jakarta Coffee Week 2025
Menyiapkan Generasi yang Tak Lupa Akar
Buat Felix, dunia kopi gak berhenti di cangkir. Ia percaya masa depan kopi Indonesia ada di tangan generasi yang mau belajar dari tanah.
Karena itu, lewat Roemah Coffee Academy, Roemah Koffie terus membuka ruang belajar, dari latte art sampai pelatihan barista supaya talenta kopi terus tumbuh.
“Roemah Koffie percaya bahwa setiap cangkir kopi yang kita nikmati hari ini dimulai dari pengetahuan dan tangan-tangan muda di ladang,” katanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih pelan, seolah mengingatkan bahwa kopi gak lahir dari mesin, tapi dari manusia.
Program ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Floca Reminder
Kopi sering dianggap hal sepele. Padahal ia teman pagi, penghilang kantuk supaya ibadah makin fokus, atau alasan buat berhenti sejenak. Tapi di baliknya ada kehidupan yang panjang: tangan-tangan yang bekerja, generasi yang belajar, dan harapan yang diseduh pelan-pelan.
Setiap tegukan seharusnya jadi pengingat: bahwa rasa yang kita nikmati hari ini, datang dari orang-orang yang memilih untuk tetap menanam, meski mungkin gak pernah tahu siapa yang akan meminumnya nanti. (flc)