Floca - Santai Sambil Update

collapse
Home / Singgah / House of Tugu Jakarta dan Pengakuan Dunia atas Warisan Nusantara
House of Tugu Jakarta dan Pengakuan Dunia atas Warisan Nusantara

House of Tugu Jakarta dan Pengakuan Dunia atas Warisan Nusantara

2026-04-02  Ikhsan Digdo  147 views

Floca.id - Di kawasan Kota Tua, Jakarta, ada satu tempat yang tidak sekadar menghadirkan bangunan lama. House of Tugu Old Town Jakarta justru mengisi ruang itu dengan cerita tentang masa lalu yang masih terasa dekat.

Pengakuan datang dari level global. TIME Magazine memasukkan House of Tugu ke dalam daftar World’s Greatest Places 2026 . Dari Indonesia, hanya satu nama yang masuk dalam kurasi tersebut.

Tapi kalau ditarik ke belakang, cerita tempat ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum daftar itu ada.

Dari Perjalanan Menjaga Sejarah

Semua berawal dari perjalanan Anhar Setjadibrata pada 1960-an. Ia berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia dan melihat banyak artefak bersejarah yang tidak terawat, juga tradisi yang perlahan hilang. 

Dari situ, ia mulai mengumpulkan benda-benda tersebut sebagai bentuk penyelamatan. Bersama istrinya, Wedya Julianti , langkah itu kemudian berkembang menjadi fondasi Tugu.

Pendekatan itu masih terasa sampai sekarang. Lucienne Anhar , yang meneruskan perjalanan ini, menegaskan bahwa sejak awal Tugu tidak dibangun dengan tujuan memperbesar bisnis.

“Kami tidak pernah memulai dengan tujuan membangun jaringan hotel dan restoran,” ujar co-owner Tugu Hotels & Restaurants Group itu.

Bagi mereka, fokusnya tetap sama sejak awal, yakni menjaga cerita.

“Yang ingin kami lakukan adalah menjaga kisah tentang masyarakat Indonesia agar tetap dikenang melalui ruang, artefak, dan pengalaman,” lanjutnya.

 

Cerita lainnya dari Floca:

The Apurva Kempinski Bali Bawa Tamu Menyusuri Jalur Rempah lewat ‘Spice Route Voyage’

house-of-tugu-jakarta-1-1.jpg
 Setiap sudutnya berisi detail dari koleksi seni, arsitektur, sampai elemen ruang. (Foto: House of Tugu)

 

Ruang, Rasa, dan Cerita yang Terus Hidup

Di dalam House of Tugu Old Town Jakarta, pendekatan itu terlihat jelas. Setiap sudutnya berisi detail dari koleksi seni, arsitektur, sampai elemen ruang yang membawa cerita budaya Peranakan. Pengunjung tidak hanya datang untuk menginap, tapi juga melihat bagaimana sejarah ditampilkan dalam bentuk yang lebih dekat.

Cerita itu berlanjut ke area kuliner. Ada Jajaghu yang mengangkat resep-resep Nusantara, serta Babah Koffie by Kawisari yang menghadirkan suasana klasik lewat kopi dan ruangnya.

Di saat yang sama, tempat ini juga terus berkembang. Beberapa ruang baru dihadirkan untuk melengkapi pengalaman pengunjung, mulai dari area hiburan bernuansa Batavia hingga museum yang menampilkan ribuan artefak dari koleksi keluarga Tugu. (ikh)


Share: